Skip to content

MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Sebagian besar masyarakat kita sepakat berpandangan bahwa perpustakaan memiliki posisi yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah. Bahkan di antara anggota masyarakat menganggap perpustakaan sebagai jantung pendidikan di sekolah. Namun dalam kenyataannya tidaklah demikian. Keberadaan perpustakaan sekolah belum mendapat perhatian serius dunia pendidikan. Bahkan di beberapa sekolah, perpustakaan sekolah masih diposisikan sebagai pelengkap penderita dan kurang terurus secara baik. Tentu saja, kondisi ini menjadikan perpustakaan sekolah sebagai pusat informasi dan media pembelajaran kurang dapat berfungsi secara optimal.

Sebagai unit kerja yang menghimpun, mengolah, dan menyajikan kekayaan intelektual (Lasa Hs, 2007), maka seharusnya perpustakaan sekolah bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Keberadaan perpustakaan sekolah akan memberikan kemungkinan para guru dan siswa memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui perpustakaan sekolah, selain para siswa dapat melakukan kegiatan belajar mandiri atau belajar kelompok, para guru juga dapat memperkaya materi-materi yang disajikan dalam proses belajar-mengajar.

Untuk dapat berfungsi optimal sebagaimana digambarkan di atas, maka perpustakaan sekolah harus dikelola secara professional dan, tentu saja, dilakukan oleh personil-personil yang terdidik di bidang perpustakaan. Dalam hal ini, kepala sekolah sebagai administrator pendidikan memegang peranan penting.

 B.    Pengertian

Pengertian perpustakaan selalu berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Secara etimologi, perpustakaan berasal dari pustaka dalam bahasa Jawa Kawi yang berarti buku, naskah, karya tulis. Perpustakaan berarti dibukukan, ditulis. Pustaka mendapat awalan per dan akhiran an, juga berarti tempat, atau kumpulan. Perpustakaan dalam bahasa Inggris adalah Library, yang berasal dari liber atau libri (Latin) yang berarti kulit dari batang pohon di bawah kulit luar, atau kitab, risalah. Veterum libri adalah kitab-kitab klasik.

Dalam bahasa Prancis perpustakaan disebut bibliotheque. Dalam bahasa Jerman dinamakan bibliothek, dan dalam bahasa Belanda disebut bibliotheek. Perkataan-perkataan tersebut berasal dari kata biblios (Yunani) yang berarti papyrus (rumput yang ditumbuk dan dikeringkan untuk ditulisi), kenudian berubah menjadi biblion yang artinya tempat. Jadi bibliotheke berarti tempat atau kumpulan buku.

Dalam pengertian yang sederhana, perpustakaan diartikan sebagai kumpulan buku, atau bangunan fisik sebagai tempat buku dikumpulkan dan disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai (Lasa Hs, 2007). Hal yang sama juga dijelaskan dalam Encyclopedia Britania (dalam Kusmintardjo, 1992) bahwa “Library is a collection of printed or written literature”. Perpustakaan adalah koleksi buku-buku, baik yang dicetak ataupun dalam bentuk tulisan.

Dalam Encyclopedia Americana, dijelaskan bahwa: A library: collection of books, called by various names in various languages”. Perpustakaan adalah kumpulan buku-buku yang terdiri dari bemacam-macam nama dan ditulis dalam bermacam-macam bahasa. Elizabeth H. Thomson dalam bukunya “ALA Glossary of Library Terms (dalam Kusmintardjo, 1992) mengatakan bahwa:

Library, a room, a group of rooms or a building, in which a collection of books and similar material organized and administrated for reading, consultation and study

Perpustakaan adalah suatu ruangan atau gedung tempat menyimpan koleksi buku-buku dan sejenisnya, yang terorganisir dan diadministrasi sebagai bahan bacaan, memperoleh informasi dan belajar).

Sedangkan Moeksam (1989) dalam bukunya “Ilmu Perpustakaan” mengatakan sebagai berikut:

Perpustakaan adalah tempat pengumpulan pustaka atau kumpulan pustaka yang disusun dan daitur dengan system tertentu, sebagai tiap-tiap buku, tiap-tiap warkat, dan tiap-tiap tulisan, sehingga sewaktu-waktu diperlukan dapat diketemukan dengan mudah dan cepat”

Dengan demikian, bukan sembarang kumpulan buku dapat kita sebut perpustakaan, dan bukan sembarang tempat pengumpulan buku kita sebut perpustakaan. Namun kumpulan buku dan bahan pustaka lainnya itu harus diatur dan disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan yang mempunyai tujuan tertentu. Bahan pustaka dapat berupa buku, naskah, gambar, foto, slide, film, rental, dan sebagainya.

 

 

C.   Fungsi Perpustakaan

Peter Platt dalam “Librarien Colleges of Education” mengatakan bahwa fungsi perpustakaan adalah:

  1. menyediakan buku-buku, majalah dan bahan-bahan lain yang dipelukan oleh para siswa/mahasiswa untuk kegiatan belajarnya;
  2. menyediakan bahan-bahan penunjang dalam pengajaran dan penelitian oleh staf pengajar untuk mata pelajaran yang diajarkannya;
  3. memenuhi keperluan yang lebih khusus yang disebabkan oleh kekhususan suatu perguruan tinggi, bahan-bahan yang akan diperlukan oleh mahasiswa dalam praktik keguruan, penelitian, kebidayaan daerah dan perkembangan pendidikan daerah dimana perguruan tinggi itu berada, serta buk-buku yang diperlukan oleh anak-anak, dan seyogyanya perpustakaan juga menyediakan buku-buku petunjuk dimana bahan-bahan ini bisa didapat;
  4. menyediakan bahan-bahan bacaan seperti buku dan majalah tidak saja dipakai di dalam kelas atau textbook, tetapi juga bahan-bahan lain yang lebih luas sifatnya serta bahan-bahan untuk mengembagkan hoby dan bahan-bahan hiburan;
  5. membantu mahasiswa berkenalan dengan literatur anak-anak, alat-alat pandang dengar (AVA), serta memberikan pengarahan dalam pengembangan suatu perpustakaan sekolah;
  6. membantu mahasiswa untuk keperluannya sehari-hari akan informasi tentang daerah, statistik dan alamat-alamat, serta tempat bahan-bahan yang akan mereka perlukan dalam praktik yang tersedia di perpustakaan-perpustakaan lain di daerahnya;
  7. bertindak sebagai penghubung dengan perpustakaan lain;
  8. menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk berlatih menggunakan buku-buku dan perpustakaan sebagai modal pertama bagi mereka yang akan melaksanakan tugas disekolah-sekolah nanti;
  9. membuat buku pedoman perpustakaan, daftar-daftar penambahan buku, daftar bacaan untuk matakuliah tertentu da mengadakan pameran koleksi perpustakaan baik di dalam kampus maupun di luar kampus supaya khalayak mengetahui bahan-bahan yang tersedia di pepustakaan yang dapat di pergunakan dalam belajar-mengajar.

Dengan demikian fungsi perpustakaan tidak hanya menunjang kegiatan belajar-mengajar di sekolah., namun masih ada fungsi lain dari perpustakaan yaitu fungsi rekreatif. Zainudin HRL (1982) mengatakan bahwa manfaat perpustakaan bagi siswa/pengunjung dapat dikelompokan ke dalam 4 (empat) aspek utama, yaitu: (1) aspek komunikasi/informasi, (2) aspek pendidikan, (3) aspek kebudayaan, dan (4) aspek rekreasi. Berikut uraian tentang aspek-aspek tersebut.

 1.    Aspek komunikasi/informasi

a.     mahasiswa dapat mengambil ide-ide dari berbagai sumber, bidang ilmu yang ditulis oleh para ahli dibidangnya masing-masing, dan bahan-bahan tersebut tersedia /tersimpan secara sistematis di perpustakaan.

b.    menimbulkan kepercayaan pada diri sendiri dalam menyerap informasi yang tersedia dan dapat memberikan pertimbangan/memilih informasi atau ide-ide yang mana saja yang patut dimanfaatkan;

c.     mahasiswa mendapat kesempatn me4makai informasi yang tersedia untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu seperti pengetahuan tentang perubahan- perubahan datang ekonomi, politik, kondisi kehidupan masyarakat dan lain sebagainya;

d.    melalui informasi/ide yang diperolehnya, mahasiswa dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan masyarakat dimana ia berada.

 2.    Aspek Pendidikan

a.     dengan perpustakaan, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mendidik diri sendiri berkesinambungan seumur hidup;

b.    mahasiswa dapat membangkitkan dan mengembangkan minat akademis secara luas, memperringgi kreativitas, dan kegiatan intelektual yang bebas;

c.     mendorong kecepatan untuk memecahkan masalah yang timbul dan memberikan kemampuan untuk memegang suatu jabatan;

d.    mempertinggi sikap social dan menciptakan masyarakat yang demokratis.

 3.    Aspek Kebudayaan

a.     meningkatkan mutu kehidupan, melaui bahan bacaa yang dibaca di perpustakaan;

b.    meningkatkan minat terhadap keindahan dan kesenian;

c.     mendorong tumbuhnya kreativitas seni dan kemerdekaan berbudaya;

d.    mengembangkan sifat-sifat hubungan manusia yang positif dan menunjang kehidupan antar kultur yang harmonis diantara suku bangsa dan antar bangsa.

 

4.    Aspek Rekreasi

a.     menggalakan kehidupan yang seimbang antara rokhani dan jaminan;

b.    memberikan kesempatan untuk mengembangkan minat rekreasi/hoby serta pemanfaatan waktu senggang;

c.     menunjang penggunaan yang kreatif dari kegiatan hiburan yang positif, melalui bacaan yang tersedia di perpustakaan.

 D.   Manajemen Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan sebagai sumber belajar akan memiliki kinerja yang baik apabila di manajemeni secara baik. Dengan manajemen yang baik, pepustakaan akan berfungsi secara optimal sesuai tujuan yang diharapkan.

 1.    Pengadaan

Yang dimaksud dengan pengadaan di sini adalah meliputi pengadaan gedung/ ruangan perpustakaan, peralatan atau perlengkapan perpustakaan, dan koleksi perpustakaan.

 

a.    Pengadaan gedung/ruangan perpustakaan sekolah

 Mengadakan gedung atau ruangan perpustakaan dapat dibuat secara permanen atau semi permanen. Yang disebut gedung permanen adalah gedung atau ruangan perpustakaan yang didisain khusus untuk perpustakaan. Sedangkan gedung /ruangan semi permanen adalah gedung atau ruangan perpustakaan yang tidak didisain khusus untuk perpustakaan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun atau mendirikan gedung /ruangan perpustakaan adalah:

  1. letak perpustakaan harus ada ditengah-tengah kegiatan belajar mengajar (centralized);
  2. lokasinya harus mudah tampak/dilihat dan dijangkau;
  3. menjamin keamanan belajar;
  4. menjamin ketenangan belajar;
  5. lokasinya masih berada dalam lingkungan sekolah.

Selain pedoman khusus di atas, masih ada hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu mengenai luas ruangan untuk setiap personil yang ada diperpustakaan, yaitu:

  1. ruang pimpinan : 15 m2
  2. ruang staf : 7,5 m2
  3. ruang guru : 3 m2
  4. ruang serbaguna : 7,5 m2
  5. ruang reference : 3x 10% jumlah siswa
  6. ruang baca : 1,6 m2 per-siswa
  7. ruang penjilidan : 10 m2
  8. ruang gudang : 8 m2

Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendirikan gedung/ruangan perpustakaan sekolah yang ideal. Pemenuhan terhadap persyaratan-persyaratan tersebut diatas., akan dapat menjamin siswa untuk belajar dengan baik di perpustakaan.

 

b.    Pengadaan Peralatan/perlengakapan perpustakaan

Yang dimaksud dengan peralatan/perlengkapan perpustakan di sini yaitu rak buku, lemari, laci katalo, meja, kursi. Jumlah rak buku disesuaikan dengan jumlah koleksi yang ada. Lemari diperlukan untuk menyimpan peralatan dan keperluan lainya. Jumlah meja dan kursi diperlukan untuk pimpinan, petugas, dan pembantu pelaksana harian perpustakaan, disamping itu juga untuk pengunjung yang dugunakan untuk membaca dan menulis. Peralatan-peralatan tersebut termasuk barang tidak habis pakai, dan harus masuk dalam daftar inventaris perpustakaan. Selain barang tidak habis pakai, perpustakaan juga memerlukan barang habis pakai yaitu alat tulis menulis untuk penyiapan dan peminjaman buku-buku dan alat pemeliharaan perpustakaan secara keseluruhan.

 

c.    Pengadaan koleksi

Alokasi jumlah koleksi perpustakaan sekolah meliputi:

  1. buku teks, minimum tersedia 5 judul untuk setiap disiplin Ilmu (anggaran 15%);
  2. buku reference, tergantung dari jenis dan tingkat sekolag (anggaran 10%);
  3. buku fiksi dan non fiksi, tersedia minimum 10 judul (anggaran 50%);
  4. Koleksi yang menunjang profesi guru (anggaran 10%)
  5. Bacaab tentang daerah (anggaran 5%);
  6. Buku tentang perpusakaan sendiri (5%);
  7. Audio Visual Aid (5%)

Pengadaan bahan-bahan/koleksi perpustakaan dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu:

  1. mengumpulkan koleksi milik sekolah, kemudian dijadikan koleksi milik perpustakaan sekolah;
  2. menambah koleksi yang sudah ada dengan jalan membeli menerma hadiah dari siswa yang lulus, tukar-menukar dan sebagainya;
  3. kerjasama antar perpustakaan sekolah.

 

2.    Penerimaan dan penyusunan buku koleksi perpustakaan

Langkah-langkah penerimaan dan penggunaan buku koleksi perpustakaan adalah sebagai berikut.

  1. Menerima buku;
  2. Menstempel hak milik

Setelah menerima buku, langkah kedua adalah memberi cap hak milik perpustakaan sekolah.

  1. Inventarisai;

Inventarisasi merupakan jenis pekerjaan pencatatan koleksi bahan pustaka ke dalam buku inventarisasi sebagai tanda kekayaan perpustakaan.

  1. Labelisasi;

       Pemberian labelpada koleksi bahan pustaka sesuai dengan kode yang dibuat di catalog, sehingga mudah dalam penggunaan koleksi bahan pustaka.

  1. Katalogisasi;

       Suatu pekerjaan pembuatan catalog sebagai pengganti koleksi bahan pustaka.

  1. Filling dan Shelving

       Pekerjaan penysunan koleksi bahan pustaka di rak dan penyusunan dengan menggunakan sistematika tertentu, misalnya: DDC (Dewey Decimal Clasifikation)

  1. Pemeliharaan

       Kegiatannya mencakup segala usaha pencegahan terhadap hal yang menimbulkan kerusakan buku atau memperbaiki buku-buku yang rusak.

Sedangkan untuk penyusunan buku di perpustakaan dapat menggunakan system klasifikasi persepuluhan Dewey (Dewey Decimal Clasification = DDC) atau klasifikasi “Library of Conggress” seperti berikut ini:

 3.    Sistem Klasifikasi Perpustakaan

 Klasifikasi Desimal Dewey Klasifikasi Library of congress

 

HUMANIORA

000 Karya Umum A Karya Umum

100-199 Filsafat (kecuali 130) B Filsafat dan agama

C Musik

200 Agama N Seni rupa

400 Bahasa P Bahasa dan Kesustraan

700 Kesenian dan rekreasi Z Bibliografi dan ilmu perpustakaan

 

ILMU-ILMU SOSIAL

130, 150 Ilmu Jiwa C Sejarah dan ilmu Penggiring

300 Ilmu Sosial D Sejarah Umum dan Kuno

900 Sejarah, Geografi H Ilmu Sosial

Biografi J Ilmu Politik

K Hukum

L Pendidikan

 SAINS DAN ENGINERING

500 Ilmu Eksakta R Kedokteran

600- 625 Teknologi, Kedokteran T Teknologi

Enginering Q Sains

640 home ekonomik U Ilmu Militer

660 Teknologi Kimia V Ilmu Laut/Samudra

 

BISNIS DAN INDUSTRI

630 Pertanian S Pertanian, Industri Perkebunan dan Peternakan

650 Bisnis 

670 Pabrik

680 Pertukangan HE Transportasi dan komunikasi

690 Bangunan HG Keuangan

 4.    Personalia Perpustakaan

Personil perpustakaan terdiri dari: (a) Kepala perpustakaan, dan (b) Pegawai /petugas perpustakaan. Jumlah pegawai/petugas perpustakaan didasarkan pada banyaknya pekerjaan yang harus ditangani. Bidang teknis perpustakaan memerlukan keahlian khusus., Oleh karena itu pegawai di bidang ini sebaiknya yang sudah pernah mendapat pendidikan/latihan perpustakaan.

 

5.    Pelayanan Perpustakaan Sekolah

Sistem pelayanan yang dapat dipergunakan di perpustakaan sekolah ada 2 bentuk, yakni:

  1. Pelayanan yang bersifat terbuka-(open-access), yaitu system poelayan dimana setiap pemakai perpustakaan dapat masuk bebas ke tempat penyimpanan buku, memilih langsung dan mengambilnya sendiri sewaktu akan dibaca atau dipinjam.
  2. Pelayanan yang bersifat tertutup (closed-access), yaitu system pelayanan dimana setiap pemakai tidak boleh masuk ke ruang buku, sedang untuk memilih buku untuk dipinjam/dibaca harus menggunakan daftar buku (katalog) yang disediakan dan dilayani oleh petugas.

Kedua sistem pelayanan tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Namun untuk keutuhan dan keteraturan koleksi buku, sistem tertutup lebih baik. Sedangkan untuk pendidikan pemakai perpustakaan, sistem terbuka lebih baik. Karena perpustakaan sekolah bertujuan untuk pendidikan, maka sistem yang digunakan sebaik-baiknya sistem pelayanan terbuka (open -access).

Adapun jenis pelayanan yang ada diperpustakan adalah pelayanan teknis dan pelayanan informasi. Pelayanan teknis merupakan pelayanan perpustakaan yang meliputi: pengadaan, pengolahan, pencatatan, pengkatalogan, pelabelan, dan penjajaran atau pemajangan bahan pustaka. Sedangkan pelayanan informasi meliputi: pelayanan sirkulasi, referensi, minat baca, audio visual, dan internet.

Pada bahasan berikut ini akan dipaparkan layanan sirkulasi dan layanan referensi.

 a.        Pelayanan sirkulasi

Pelayanan sirkulasi adalah pelayanan yang bekenaan dengan peminjaman dan pengembalian buku koleksi perpustakaan. Kesibukan layanan sirkulasi ini dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengukur kegiatan suatu perputakaan. Tugas pokok pelayanan sirkulasi inni adalah:

  1. melayani dan menyelesaiakan administrasi peminjaman dan pengembalian buku;
  2. membuat tata tertib serta pengumuman tentang hal yang berkenaan dengan tata tertib pemakain ruang baca, peminjaman dan pengembaliann buku;

Ada beberapa bentuk peminjaman yang dapat dilakukan dalam rangka layanan sirkulasi:

  1. Sistem daftar (ledger-system)

Yaitu dengan memakai buku bergaris dan dibuatkan kolom untuk mencatat tanggal peminjaman, nama peminjam, dan identitas lainnya. Cara ini paling sederhana dan sudah kuno.

  1. Sistm bon (book-system)

Yaitu blangko peminjaman yang ditulis sendiri oleh peminjam dengan memakai karbon dan dapat disimpan sesuai dengan keperlua. Pekerjaan ini terlalu lama dan kurang praktis.

  1. Sistem kartu

Sistem ini paling praktis namun mahal

 b.        Pelayanan reference

Reference berasal dari kata “to refer” yang berarti “menunjuk kepada”. Biasanya koleksi reference ini memiliki tempat penyimpan sendiri yang disebut ruang reference. Buku-buku reference ini sifatnya memberi petunjuk, sehingga harus selalu tersedia di perpustakaan supaya dapat dipakai setiap saat. Oleh karena itu buku reference tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Bagi peminjam yang memerlukan harus datang dan membacanya di ruang reference.

 E.    Implementasi layanan Perpustakaan pada Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah

Kegiatan belajar mengajar mencakup usaha penataan dan penggunaan sarana dan bahan/materi pelajaran pada sebelum, sewaktu dan sesudah proses belajar mengajar itu berlangsung. Konsep ini penting dikemukakan untuk tidak menimbulkan kerancuan dengan pengertian ‘proses belajar mengajar, dimana yang terakhir ini memang hanya trjadi pada waktu jam-jam pelajaran efektif.

Secara umum, implementasi program perpustakaan terhadap kegiatan belajar mengajar dapat diidentifikasikan sebagai berikut: (1) Membantu menumbuhkan dan mengembangkan aktivitas anak, (2) Menurunkan kadar ketergantungan siswa pada guru, dan (3) Efisiensi dan efektifitas upaya pencapaian tujuan pengajaran

 

  1. Membantu menumbuhkan dan mengembangkan aktivitas anak.

Pertumbuhan dan perkembangan aktivitas anak dapat terjadi jika anak merasa dapat mengikuti (secara phisik dan psikhis) kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah itu. Untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar terutama untuk bidang studi yang sifatnya lebih banyak kognitif dan afektif, maka perlu tersedianya suatu “resources” inilah (yang bisa berupa bahan pustaka) anak dapat berlonba untuk selalu siap mengikuti materi yang disampaikan. Media untuk dapat selalu siap inilah yang dimaksudkan dengan tumbuh dan berkembangnya aktivitas anak.

 

  1. Menurunkan kadar ketergantungan siswa pada guru.

Perpustakaan yang lengkap koleksinya dan terkelola dengan baik, bila dimanfaatkan secara optimal akan dapat membuat siswa tidak terlalu tergantung kepada guru. Siswa akan berpandangan bahwa guru bukan satu-satunya sumber belajar. Pendekatan CBSA atau Student Active Learning dalam kegiatan belajar mengajar menuntut siswa lebih aktif mempelajari dan menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri. Disinilah letak peran perpustakaan sekolah sebagai resources yang akhirnya dapat mengurangi ketergantungan siswa kepada guru. Guru berperan sebagai fasilitator, walaupun masih harus sebagai sumber utama.

 

  1. Efisiensi dan efektifitas dalam upaya pencapaian tujuan pengajaran

Tujuan pengajaran yang dirumuskan dengan baik dan benar, selayaknya diupayakan pencapaiannya secara maksimal. Pemaksimalan pencapain tujuan pengajaran tersebut dapat dilakukan antara lain dengan menyediakan pelayanan perpustakaan yang memadai. Di perpustakaan sekolah siswa dapat melengkapi pemahamannya terhadap materi yang disampaikan guru sehingga tujuan pengajaran menjadi relatif lebih mudah untuk dicapai siswa.

Sedangkan Ruth Arn Davies dalam “The Shchool Library Media Program” (seperti yang disadur oleh Zainuddin NRL.) menguraikan penggunaan perpustakaan dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut.

 

  1. 1.        Penggunaan perpustakaan dalam pengajaran ilmu sosial

National Council for the Social di America di dalam garis besar program pengajaran sosial memberikan perhatianya kepada satu dari sembilan bidang utama kepada standar yang mengatakan bahwa strategipengajaran dan kegiatan belajar mengajar haruslah bersandar kepada sejumlah besar sumber-sumber belajar. Rasional yang diberikan oleh NCSS tersebut, untuk penggunaan sumber-sumber belajar antara lain sebagai berikut:

  1. belajar dalam ilmu sosial membutuhkan sumber yang banyak;
  2. penggunaan satu texbook tidak memadai;
  3. untuk mencapai tujuan yang mewakili semua komponen pendidikan studi sosial tergantung kepada lebih banyaknya informasi, sudut pandangan, dan kecocokan yang lebih untuk tiap murid secara individual;
  4. media cetak harus tersedia untuk kemampuan membaca yang berbeda dan kebutuhan yang berbeda akan materi yang konkrit dan abstrak;
  5. pelajar harus memiliki buku, majalah, referensi dasar, studi kasus, grafik, tabel, peta, artikel, dan bahan-bahan bacaan yang sesuai untuk mata pelajaran yang sedang dipelajari;

Dari rasional di atas, jelas betapa pentingnya bagi guru ilmu sosial untuk merencanakan bersama ahli perpustakaan/media untuk mengintegrasikan yang sistematis sumber-sumber perpustakaan/media dan layanan pusat perpustakaan /media dalam rangka suatu program pengajaran menyeluruh.

 

2.    Penggunaan perpustakaan dalam pengajaran bahasa

Dalam pengajaran bahasa, misalnya bahasa Inggris, tanggungjawab ahli perpustakaan/media merupakan tanggungjawab yang paling besar untuk menunjang program membaca. Untuk memungkinkan pengembangan yang optimum, baik yang informal maupun yang rekreasional, prpgram membaca merupakan masalah yang selalu ada dan tantangan yang berkelanjutan. Perlu disadari bahwa mata ajaran lebih penting dari mata ajaran lainya; tetapi pelajaran membaca adalah yang terpenting. Membaca adalah alat dasar untuk pendidikan mandiri dan pembaharuan intelektual. Orang yang tidak belajar membaca dan menulis secara efektif tidak saja mempunyai kekurangan di`dalam alat dasar untuk belajar lebih lanjut; mereka juga sering tenggelam dalam arus proses pendidikan.

Florence Cleary (dalam Kusmintardjo, 1992) berkeyakinan bahwa pusat perpustakaan/media harus berpartisipasi aktif dalam program membaca di sekolah dan keyakinannya di dasarkan pada asumsi:

  1. membaca dapat merupakan faktor yang kuat dalam pengembangan ilmu, pengertian, apresiasi, nilai, dan keyakinan yang dibutuhkan oleh tiap individu dalam memecahkan masalah pribadi dan berhubungan secara efektif dengan orang lain;
  2. ketrampilan dasar membaca perlu mendapat latihan ketrampilan lanjutan seperti membaca sepintas, membuat out line, membuat catatan, dan membuat laporan. Semuanya ini esensial dalam mengumpulkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan. Ketrampilan ini tidak dapat diperoleh secara kebetulan namun harus diajarkan;
  3. walaupun anak telah pandai membaca dan bahan bacaan tersedia, tidak ada jaminan bahwa minat baca anak-anak akan berkembang dengan sendirinya. Para pimpinan pendidikan, pustakawan, dan guru harus meneruskan usahanya untuk menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat murid. Hanya apabila pustakawam dan guru membangun situasi belajar yang benar dalam bimbingan membaca barulah para murid belajar menyenangi membaca dan mengembangkan ketrampilan membaca agar bisa membaca sepanjang hayat.

 

  1. 2.        Penggunaan perpustakaan dalam pengajaran sains

Jika siswa diharapkan mampu memecahkan masalah-masalah ilmiah, teknologi, dan sosial pada masa yang akan datang dan tidak tenggelam dalam tugasnya sehari-hari, merka harus mempunyai dasar yang menyeluruh dalam keajaiban dari dunia alami dimana mereka hidup. Pada tangan merekalah terletak harapan untuk membuat sains dan masyarakat, kebudayaan dan alam menjadi seimbang dan harmonis. Pada hakekatnya anak-anak inilah yang merupakan masa depan itu.

Ahli perpustakaan/media mempunyai peran mendidik yang signifikan dalam membaca yang membawa kedalam, keluasan dan relevansi kepada kurikulum sains. Membatasi pendidikan sains kepada penggunaan sebuah buku teks saja merupakan strategi kuno. National Science Teacher Assosiation di Amerika mengkombinasikan pendekatan multi media sebagai alat untuk menjadikan belajar sains lebih sesuai dengan kehidupan nyata. Tanpa bantuan logistik dari ahli perpustakaan/media, guru kelas atau guru bidang studi tidak cukup waktu untuk mencari media yang berjumlah banyak dan bervariasi yang diperlukan dalam program sains modern. Malah dengan kita membeli multi media di pasaran bukanlah merupakan jawaban, karena program pengajaran yang bermutu tinggi mencerminkan pengalaman belajar yang orisinil disusun guru dan disesuaikan dengan kebutuhan muridnya sendiri., dan ini membutuhkan media pengajaran yang tidak terpenuhi olek kita yang bagaimanapun hebatnya. Program semacam ini akan memberikan lingkungan yang kaya akan sumber-sumber yang akan menggairahkan anak dan menjamin rasa ingin tahu mereka dan memberikan kesempatan kepada pelajar untuk merenung, menjelajah, mempertanyakan, menemukan jawaban, membentuk generalisasi dan mencipta.

 

F.    Kepala Sekolah dan Layanan Perpustakaan Sekolah

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan hendaknya mengetahui bagaimana mengelola perpustakaan sekolah yang memenuhi standart, agar perpustakaan dapat dimanfaatkan secara optimal. Adalah menjadi tanggung jawab kepala sekolah untuk mengambil kepemimpinan di dalam mengembangkan perpustakaan sekolah yang memenuhi standar. Maka dari itu kepala sekolah hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. perpustakaan sekolah sebaiknya berada dibawah “direction” seseorang/staf sekolah yang terlatih dan terdidik dengan baik dalam bidang perpustakaan;
  2. perpustakaan sekolah harus memiliki sejumlah buku “reference” yang cukup (termasuk ensiklopedia, atlas, kamus dan sejenisnya), sejumlah buku dari semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah (yang patut digunakan sebagai bacaan pelengkap siswa) dan bahan-bahan umum yang terseleksi sesuai dengan minat dan kebutuhan tersebut;
  3. memakai suatu sistem klasifikasi tertentu yang memadai, dimana koleksi (buku) diklasifikasi, di label, dan di “shelving” berdasarkan sistem tersebut;
  4. adanya perlengkapan yang memadai dalam bentuk ruangan, peralatan dan bahan-bahan untuk mereparasi, disampinng itu juga “jalan masuk “accessioning”;
  5. melengkapi dan mengejakan suatu “record system” yang meliputi catatan peminjaman dan pengembalian, catatan-catatan buku yang hilanng, rusak atau dibuang.
  6. melengkapi dengan sejumlah fasilitas untuk membeli buku-buku termasuk publikasi dan informasi lain tentang buku-buku yang baru diterbitkan;
  7. adanya perlengkapan bagi siswa, termasuk jadwal yang lengkap.

Untuk mengelola perpuskaan sekolah, kepala sekolah perlu jugamemahami bidang-bidang yang berkaitan dengan perpustakaan. Bidang-bidang tersebut meliputi: bidang “personnel”, “service”, “using dan user” (seperti yang dikemukakan oleh Rusina Syahrial dalam Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah).

 

  1. 1.        Bidang “personnel

Kesuksesan perpustakaan sekolah sebagai sarana penunjang pendidikan dan pengajaran di sekolah sangat tergantung pada kualifikasi personil perpustakaan itu sendiri. Mengingat hal tersebut, seorang, seorang kepala sekolah hendaknya menaruh perhatian pada personalia dan pengelolaannya, yakni:

  1. memilih pemimpin atau kepala perpustakaan yang tidak hanya sebagai seorang pembagi buku (dispenser of books), namun lebih dari itu adalah seorang pemimpin perpustakaan, organisator, guru, administrator, dan seorang personnel-worker;. Disamping itu ia tidak hanya sebagai seorang “librarian” yang terlatih dan terdidik dalam bidang perpustakaan, namun juga harus mengerti dan memahami bagaimana memberi stimulasi kepada siswa dan guru untuk memanfaatkan pemakaian perpustakaan secara maksimal;
  2. menggembangkan perwakilan perpustakaan siswa di dalam organisasi peerintahan siswa (OSIS) dan mengadakan pemilihan komite perpustakaan siswa.

 

  1. 2.        Bidang “service

Perpustakaan harus dilihat sebagai bagian yang terintegrasi dalam program pendidikan di sekolah. Berkenaan dengan itu, maka tugas kepala sekolah dalam bidang “service” akan terlaksana dengan baik apabiola mempertimbangkan hal-hal berikut ini:

  1. mengenal, memahami dan mengembangkan peranan perpustakaan dalam rangka mengembangkan program pengajaran;
  2. mengenal masyarakat, negara, dam lembaga perpustakaan nasional;
  3. menyediakan secara memadai dan menarik, ruang/gedung dan perlengkapan perpustakaan;
  4. menyusun jadwal agar pelayanan perpustakaan agar pelayanan lebih efektif;
  5. membantu pimpinan perpustakaan sekolah dalam mengembagkan policy, penyusun staf, dan disiplin dalam perpustakaan.
  6. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab untuk menstimulasi dan membimbing stafnya bekerja sama dengan pimpinan, serta membentuk ‘library-committes” untuk memilih dan memesan buku-buku baru bagi perpustakaan memutuskan bahan-bahan koleksi mana yang boleh “dicabut” dari perpustakaan untuk keperluan pengajaran di kelas, serta membantu mengembangkan peraturan/tata tertib serta penjadwalan;
  7. Menyediakan biaya secara memadai berdasarkan anggaran tahunan, juga dengan perencanaan yang dapat dikerjakan (aplicable)

 

  1. 3.        Bidang “using dan user

Penanganan bidang ini perlu mendapatkan perhatian, sebab penggunaan (using) perpustakaan sekolah terutama ditujukan kepada “user” (siswa). Perlu petunjuk tentanng penggunaan buku, bagaimana cara mencari buku yang dibutuhkan, penggunaan buku katalog, penggunaan buku reference, serta pembuatan bibliografi dan penempatan catatan.

Dalam hubungannya dengan penggunaan perpustakan sekolah hendaknya:

  1. kepala sekolah meluangkan waktu untuk perpustakaan untuk mengadakan observasi terhadap kemampuan siswa menggunakan bahan-bahan pustaka dan ruang lingkup penggunaanya;
  2. kepala sekolah mengharapkan kepada seluruh staf sekolah untuk selalu mengetahui perpustakaan dan bagaimana menggunakan bahan-bahan pustaka untuk kegiatan belajar mengajarnya;
  3. kepala sekolah selalu mengadakan bimbingan bacaan di dalam memajukan bacaan siswa dan mengadakan “cheking” dengan pimpinan perpustakaan.
  4. kepala sekolah berusaha mengembangkan penggunaan perpustakaan sekolah dengan melaksanakan supervisi pengajaran terhadap guru-guru.

Kegiatan akhir dari pengelolaan perpustakaan adalah kegiatan evaluasi perpustakaan sekolah. Evaluasi perpustakaan harus didasarkan pada kriteria yang berkaitan dengan staf perpustakaan, penggunaan perpustakaan oleh murid, administrasi dan organisasi perpustakaan, pemilihan materi perpustakaan, dan karakteristik khusus dari layanan materi perpustakaan, sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B

Gambar

GEDUNG SMKN10 MALANG

GEDUNG SMKN10 MALANG

PERANAN KEPALA SEKOLAH DALAM BIDANG PELAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

PERANAN KEPALA SEKOLAH DALAM BIDANG PELAYANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan hendaknya mengetahui bagaimana mengelola perpustakaan sekolah yang memenuhi standart, agar perpustakaan dapat dimanfaatkan secara optimal. Adalah menjadi tanggung jawab kepala sekolah untuk mengambil kepemimpinan di dalam mengembangkan perpustakaan sekolah yang memenuhi standar. Maka dari itu kepala sekolah hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini: (1) perpustakaan sekolah sebaiknya berada dibawah “direction” seseorang/staf sekolah yang terlatih dan terdidik dengan baik dalam bidang perpustakaan; (2) perpustakaan sekolah harus memiliki sejumlah buku “reference” yang cukup (termasuk ensiklopedia, atlas, kamus dan sejenisnya), sejumlah buku dari semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah (yang patut digunakan sebagai bacaan pelengkap siswa) dan bahan-bahan umum yang terseleksi sesuai dengan minat dan kebutuhan tersebut; (3) memakai suatu sistem klasifikasi tertentu yang memadai, dimana koleksi (buku) diklasifikasi, di label, dan di “shelving” berdasarkan sistem tersebut; (4) adanya perlengkapan yang memadai dalam bentuk ruangan, peralatan dan bahan-bahan untuk mereparasi, disampinng itu juga “jalan masuk “accessioning”; (5) melengkapi dan mengejakan suatu “record system” yang meliputi catatan peminjaman dan pengembalian, catatan-catatan buku yang hilanng, rusak atau dibuang. (6) melengkapi dengan sejumlah fasilitas untuk membeli buku-buku termasuk publikasi dan informasi lain tentang buku-buku yang baru diterbitkan; (7) adanya perlengkapan bagi siswa, termasuk jadwal yang lengkap.
Untuk mengelola perpuskaan sekolah, kepala sekolah perlu juga memahami bidang-bidang yang berkaitan dengan perpustakaan. Bidang-bidang tersebut meliputi: bidang “personnel”, “service”, “using dan user” (seperti yang dikemukakan oleh Rusina Syahrial dalam Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah).

Dalam Bidang “personnel” Kepala Sekolah harus memahami kualifikasi personil yang akan memiliki kemampuan orgasisator,administrator,librarian, serta deorang personnel-worker bukan hanya despenser of books saja.
Kesuksesan perpustakaan sekolah sebagai sarana penunjang pendidikan dan pengajaran di sekolah sangat tergantung pada kualifikasi personil perpustakaan itu sendiri. Mengingat hal tersebut, seorang, seorang kepala sekolah hendaknya menaruh perhatian pada personalia dan pengelolaannya, yakni: (1) memilih pemimpin atau kepala perpustakaan yang tidak hanya sebagai seorang pembagi buku (dispenser of books), namun lebih dari itu adalah seorang pemimpin perpustakaan, organisator, guru, administrator, dan seorang personnel-worker;. Disamping itu ia tidak hanya sebagai seorang “librarian” yang terlatih dan terdidik dalam bidang perpustakaan, namun juga harus mengerti dan memahami bagaimana memberi stimulasi kepada siswa dan guru untuk memanfaatkan pemakaian perpustakaan secara maksimal; (2) menggembangkan perwakilan perpustakaan siswa di dalam organisasi peerintahan siswa (OSIS) dan mengadakan pemilihan komite perpustakaan siswa.

Dalam Bidang “service” Kepala Sekoplah selaku [rogramere pelaksanaan pendidikan di sekolah, maka tugas kepala sekolah dalam bidang “service” akan terlaksana dengan baik apabiola mempertimbangkan hal-hal berikut ini: (1) mengenal, memahami dan mengembangkan peranan perpustakaan dalam rangka mengembangkan program pengajaran; (2) mengenal masyarakat, negara, dam lembaga perpustakaan nasional; (3) menyediakan secara memadai dan menarik, ruang/gedung dan perlengkapan perpustakaan; (4) menyusun jadwal agar pelayanan perpustakaan agar pelayanan lebih efektif; (5) membantu pimpinan perpustakaan sekolah dalam mengembagkan policy, penyusun staf, dan disiplin dalam perpustakaan. (6) Kepala sekolah memiliki tanggung jawab untuk menstimulasi dan membimbing stafnya bekerja sama dengan pimpinan, serta membentuk ‘library-committes” untuk memilih dan memesan buku-buku baru bagi perpustakaan memutuskan bahan-bahan koleksi mana yang boleh “dicabut” dari perpustakaan untuk keperluan pengajaran di kelas, serta membantu mengembangkan peraturan/tata tertib serta penjadwalan; (8) Menyediakan biaya secara memadai berdasarkan anggaran tahunan, juga dengan perencanaan yang dapat dikerjakan (aplicable)

Dalam Bidang “using dan user” kepala sekolah perlu memperhatikan masalah penggunaan (using) perpustakaan sekolah terutama ditujukan kepada “user” (siswa). Perlu petunjuk tentanng penggunaan buku, bagaimana cara mencari buku yang dibutuhkan, penggunaan buku katalog, penggunaan buku reference, serta pembuatan bibliografi dan penempatan catatan. Oleh Karena itu dengan penggunaan perpustakan sekolah hendaknya: (1) kepala sekolah meluangkan waktu untuk perpustakaan untuk mengadakan observasi terhadap kemampuan siswa menggunakan bahan-bahan pustaka dan ruang lingkup penggunaanya; (2) kepala sekolah mengharapkan kepada seluruh staf sekolah untuk selalu mengetahui perpustakaan dan bagaimana menggunakan bahan-bahan pustaka untuk kegiatan belajar mengajarnya; (3) kepala sekolah selalu mengadakan bimbingan bacaan di dalam memajukan bacaan siswa dan mengadakan “cheking” dengan pimpinan perpustakaan. (4) kepala sekolah berusaha mengembangkan penggunaan perpustakaan sekolah dengan melaksanakan supervisi pengajaran terhadap guru-guru.
Kegiatan akhir dari pengelolaan perpustakaan adalah kegiatan evaluasi perpustakaan sekolah. Evaluasi perpustakaan harus didasarkan pada kriteria yang berkaitan dengan staf perpustakaan, penggunaan perpustakaan oleh murid, administrasi dan organisasi perpustakaan, pemilihan materi perpustakaan, dan karakteristik khusus dari layanan materi perpustakaan, sekolah. Bagi sekolah yang sudah menerapkan manajemen ISO, sistem birokrasi tetap tetap dijalankan secara maksimal tanpa mengurang kreteria dalam kegiatan evaluasi perpustakaan sekolahg di atas.

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.